Mencari Wajah Demokrasi Hikmat dalam Debat Capres

Mencari Wajah Demokrasi Hikmat dalam Debat Capres

Debat para kandidat presiden dan wakilnya merupakan subtansi unik dari demokrasi hikmat. Ia menjadi penciri sekaligus pembeda dari wajah-wajah demokrasi lainnya. Semestinya di dalamnya terdapat proses adu akal pikiran yang sehat tentang penyelesaian masalah publik. 

***

Sumber demokrasi itu sama, yaitu mata air daulat rakyat. Pancaran jernih kekuasaan yang mutlak, abadi, dan asli. Mutlak berarti kekuasaan tertinggi dan tidak terbagi-bagi. Abadi berarti kekuasaan berlangsung terus tanpa putus-putus. Dan, asli berarti tidak berasal atau tidak dilahirkan dari kekuasaan lain.     

Tentu wajah demokrasi di tiap negara di dunia ini tidaklah sama. Banyak faktornya, bisa terkait dengan iklim dan geopolitik di tempat demokrasi itu tumbuh dan berkembang. Beragam wajahnya. Misalnya, ada demokrasi klasik, demokrasi liberal, demokrasi pluralis, demokrasi Leninis, dan demokrasi deliberatif.

Di Indonesia, demokrasi yang hadir adalah wajah hikmat, yang kemudian biasa disebut dengan demokrasi hikmat. Sistem politik yang ditanam dan dikembangkan di hamparan wilayah bumi Pancasila yang mencakup daratan, lautan, dan udara Nusantara.

Demokrasi ini dipupuk dan dirawat oleh seperangkat sikap serta perilaku, berjangkarkan akal pikiran yang sehat. Demokrasi yang tumbuh kembang dengan orientasi pada kerakyatan yang makmur dengan pilihan strategi pencapaian tujuan melalui nilai-nilai kearifan (kebijaksanaan) dan praktik-praktik permusyawaratan. Hal itu sejalan-senapas dengan ideologi Pancasila, terutama sila keempat yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.

Pemikir kebangsaan dan kenegaraan, Yudi Latif (2014), menyebutkan hikmat (kebijaksanaan) dalam Pancasila merefleksikan orientasi etis bahwa ”kerakyatan” yang dianut bangsa Indonesia bukan kerakyatan yang mencari suara terbanyak belaka, melainkan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Orientasi etis (hikmat-kebijaksanaan) yang dihidupkan melalui daya rasionalitas, kearifan konsensual, dan komitmen keadilan, yang menghadirkan sintesis terbaik.

Selain orientasi etis, hikmat itu juga berorientasi politis. Orientasi yang disajikan melalui menu utama keberpihakan kepada kepentingan kemanusiaan yang beradab, kesatuan yang damai, kecerdasan utuh, dan kemakmuran rakyat. Dengan kata lain, orientasi politis adalah keberpihakan kepada kepentingan umum demi penciptaan kebaikan bersama.  

Wajah Kusam Demokrasi Hikmat

Sayangnya, wajah demokrasi hikmat tersebut masih belum memancarkan cahaya alaminya. Ia masih tampak kusam. Mengapa demikian? Di antara penjelasannya adalah dikarenakan asupan nutrisi demokrasinya yang kurang sehat. Ia tidak banyak mengandung zat gizi etis dan politis.  

Itu semua misalnya terlihat secara terbuka pada even Pemilihan Umum 2024. Yang saat ini memasuki pengujung tahapan kampanye. Termasuk di dalamnya agenda debat pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. 

Publik banyak menduga adanya ‘tangan tak terlihat (invisible hand)’ para kaum anti-etis serta anti-politis yang aktif beroperasi. Terutama beroperasi melalui kecurangan-kecurangan Pemilu, baik secara terbuka maupun secara terselubung. Bahkan tidak hanya publik, para kontestan pun memiliki dugaan yang hampir mirip. Mereka masing-masing misalnya saling melaporkan adanya dugaan kecurangan atau pelanggaran Pemilu.    

Di luar itu semua, sebenarnya jika kita membaca tema-tema debat yang tersaji maka tampak sudah hadir wajah demokrasi hikmat. Pada umumnya tema-tema tersebut terkait dengan dasar-dasar ideal kearifan dan kebijakan bernegara. Tema debat pertama (Capres, 12 Desember 2024) tentang pemerintahan, hukum, HAM, pemberantasan korupsi, penguatan demokrasi, peningkatan layanan publik dan kerukunan warga. Tema debat kedua (Cawapres, 22 Desember 2023) tentang ekonomi (ekonomi kerakyatan dan ekonomi digital), keuangan, investasi pajak, perdagangan, pengelolaan APBN-APBD, infrastruktur, dan perkotaan. 

Tema debat ketiga (Capres, 7 Januari 2024) tentang pertahanan, keamanan, hubungan internasional dan geopolitik. Tema debat keempat (Cawapres, 21 Januari 2024) tentang pembangunan berkelanjutan, sumber daya alam, lingkungan hidup, energi, pangan, agraria, masyarakat adat dan desa. Dan, tema debat kelima (Capres, 4 Februari 2024) tentang kesejahteraan sosial, kebudayaan, pendidikan, teknologi informasi, kesehatan, ketenagakerjaan, sumber daya manusia, dan inklusi.

Namun demikian, jika menyimak pelaksanaan debat hingga putaran keempat kemarin, yang menampilkan cawapres Muhaimin Iskandar, Gibran Rakabuming Raka, dan Mahfud MD, sebelumnya debat capres yang menampilkan Anies Rasyid Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo, secara aktual terlihat sepi adegan debat berdaya rasionalitas, kearifan, dan komitmen keberpihakan pada nilai-nilai kebangsaan dan kenegaraan. Debat-debat itu masih terlalu banyak menonjolkan politik gimik ketimbang politik programatik. 

Padahal harus diingat bahwa debat para kandidat ini merupakan subtansi unik dari demokrasi hikmat. Ia menjadi penciri sekaligus pembeda dari wajah-wajah demokrasi lainnya. Di dalamnya ada proses adu akal pikiran yang sehat tentang penyelesaian masalah publik. Oleh sebab itu, debat capres-cawapres banyak diharapkan mampu mendefinisikan dan memosisikan kepentingan rakyat, serta sekaligus saling menyodorkan solusi terbaiknya dalam pemenuhan hajat kepentingan rakyat.

Wajah demokrasi hikmat yang masih kusam memang akan tampak kehilangan cahaya alaminya. Cahaya yang sesungguhnya dibutuhkan agar segenap rakyat dapat hidup nyaman dan percaya diri saat berada di dekapannya dan berlaku lampah di sekitarnya. Oleh sebab itu, ia harus diatasi dengan merawatnya secara sungguh-sungguh, tidak hanya cepat namun juga tepat.     

Debat Bermutu adalah Kunci

Dalam konteks tahapan Kampanye Pemilu 2024, mendorong sekaligus menjamin debat yang bermutu oleh segala pihak menjadi salah satu langkah perawatan cepat dan tepat untuk menghadirkan wajah demokrasi hikmat.  

Debat secara bahasa berarti pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing (KBBI, 2011). Sejatinya debat adalah ruang kumpulan saling silang pendapat dan argumen para kandidat perihal urusan publik yang akan dijadikan rujukan oleh rakyat dalam menetapkan pilihan politiknya.  

Dalam perspektif mutu pendidikan politik, alat ukur debat bermutu yang bisa dikawal bersama adalah sudut input, proses, dan luaran debat. Sudut input berbicara tentang aspek isi dan argumentasi. Sudut proses berbicara mengenai aspek proses komunikasi dan deliberasi. Dan, sudut luaran berbicara mengenai aspek manfaat debat. 

Aspek isi menitikberatkan subtansi, yaitu ide atau gagasan besar apa yang dimiliki oleh ketiga pasang kandidat mengenai persoalan yang dihadapi bangsa dan negara.  Ide yang diturunkan pada visi, misi, dan program-program. Aspek argumentasi menitikberatkan pasangan calon wajib memiliki alasan, baik berupa data, teori maupun logika, untuk mempertahankan dan mengembangkan gagasannya. 

Aspek komunikasi menitikberatkan kemampuan pasangan calon dalam mengidentifikasi dan mengagregasi aspirasi rakyat serta secara bersamaan mampu menyampaikan gagasan dan argumentasinya kepada segala pihak yang berkepentingan. Terutama kepada rakyat pemilih Pemilu 2024, yang berjumlah 204.807.222 pemilih (kpu.go.id). 

Dan aspek deliberasi menitikberatkan pentingnya sikap dan perilaku berdebat yang empati dan saling menghargai posisi. Aspek ini juga menekankan semangat saling mencari titik temu (kemufakatan akal sehat), setelah sebelumnya saling membongkar titik-titik perbedaan gagasan antara calon. Dengan itu, rakyat pemilih memperoleh ruang luas untuk menimbang-nimbang dalam menentukan pilihannya secara rasional, cerdas,  dan terbebas dari fanatisme berlebihan. 

Adapun aspek manfaat, debat capres-cawapres tidak hanya mengandung manfaat elektoral, namun juga manfaat moral dan intelektual. Manfaat yang dirasakan rakyat pemilih dalam wujud bahwa memilih adalah tanggung jawab personal dan sekaligus hak konstitusional. Di samping itu, manfaat dalam wujud kecerdasan kontestasi, kemampuan literasi dan kemauan berpartisipasi.

Ikhitar segala pihak dengan memperhatikan ketiga sudut debat serta beberapa aspeknya tersebut, terutama pihak pasangan calon, tim pemenangan, dan para penyelenggara, debat capres pamungkas nanti harus dipastikan tidak lagi sekedar sebagai tontonan (show), namun benar-benar sebagai tuntunan (guidance). 

Menjadi tuntunan karena dalam debat hadir wajah demokrasi hikmat. Debat dipraktikkan dalam lintasan sirkuit akal pikiran yang sehat, dan digerakkan oleh mesin cita kemanusiaan, kesatuan, dan kearifan hanya demi terejawantahkannya rakyat yang cerdas, damai, makmur, dan berdaulat. Wallahu’alam bis Shhawab.

Artikel ditulis ulang dari https://arina.id/perspektif/ar-Pt7aY/mencari-wajah-demokrasi-hikmat-dalam-debat-capres

Related Posts